Pengertian Camels dalam perbankan

Posted: April 30, 2012 in Uncategorized

PENGERTIAN CAMEL

Dalam kamus Perbankan (Institut Bankir Indonesia), edisi kedua tahun 1999: CAMEL adalah aspek yang paling banyak berpengaruh terhadap kondisi keuangan bank, yang mempengaruhi pula tingkat kesehatan bank, CAMEL merupakan tolok yang menjadi obyek pemeriksaan bank yang dilakukan oleh pengawas bank. CAMEL terdiri atas lima criteria yaitu modal, aktiva, manajemen, pendapatan dan likuiditas.

 

Berdasarkan kamus Perbankan (Institut Bankir Indonesia), edisi kedua tahun 1999, peringkat CAMEL dibawah 81memperlihatkan kondisi keuangan yang lemah yang ditunjukan oleh neraca bank, seperti rasio kredit tak lancar terhadap total aktiva yang meningkat, apabila hal tersebut tidak diatasi akan mengganggu kelangsungan usaha bank, bank yang terdaftar pada pengawasan dianggap sebagai bank bermasalah dan diperiksa lebih sering oleh pengawas bank jika dibandingkan dengan bank yang tidak bermasalah. Bank dengan peringkat CAMEL diatas 81 adalah bank dengan pendapatan yang kuat dan aktiva tak lancer sedikit, peringkat CAMEL tidak pernah diinformasikan secara luas.

 

Rasio CAMEL adalah menggambarkan suatu hubungan atau perbandingan antara suatu jumlah tertentu dengan jumlah yang lain. dengan analisis rasio dapat diperoleh gambaran baik buruknya keadaan atau posisi keuangan suatu bank. Manfaat Rasio Keuangan untuk Memprediksi Kebangkrutan Machfoedz (1994) menguji manfaat rasio keuangan dalam memprediksi laba perusahaan dimasa yang akan datang. Rasio keuangan yang digunakan adalah cash flows/current liabilities, net worth and total liabilities/fixed assets, gross profit/sales, operating income/sales, net income/sales, quick assets/inventory, operating income/total liabilities,net worth/sales, current liabilities/net worth, dan net worth/total liabilities. Ditemukan bahwa rasio keuangan yang digunakan dalam model bermanfaat untuk memprediksi laba satu tahun ke muka, namun tidak bermanfaat untuk memprediksi lebih dari satu tahun. Penelitian berkaitan dengan prediksi kebangkrutan bank di Indonesia dilakukan oleh Wilopo (2001). Penyampelan dalam penelitian ini dilakukan secara cluster yaitu 235 bank pada akhir tahun 1996 dibagi menjadi 16 ban terlikuidasi dan 219 bank yang tidak dilikuidasi, selanjutnya diambil 40% sebagai sampel estimasi, terdiri atas 7 bank terlikuidasi dan 87 bank yang tidak dilikuidasi. Kemudian dari 215 bank pada akhir tahun 1997 yang terdiri atas 38 bank terlikuidasi dan 177 bank pada tahun 1999 yang tidak dilikuidasi, diambil 40% sebagai sampel validasi yang terdiri atas 16 bank terlikuidasi dan 70 bank yang tidak dilikuidasi. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini untuk memprediksikan kebangkrutan bank adalah rasio keuangan model CAMEL (13 rasio), besaran (size) bank yang diukur dengan log. assets, dan variabel dummy (kredit lancar dan

manajemen). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara keseluruhan tingkat prediksi

variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini tinggi (lebih dari 50% sebagai cutoff

value-nya). Tetapi jika dilihat dari tipe kesalahan yang terjadi tampak bahwa kekuatan

prediksi untuk bank yang dilikuidasi 0% karena dari sampel bank yang dilikuidasi,

semuanya diprediksikan tidak dilikuidasi. Dengan demikian hasil penelitian ini tidak

mendukung hipotesis yang diajukan bahwa “rasio keuangan model CAMEL, besaran (size)

bank serta kepatuhan terhadap Bank Indonesia” dapat digunakan untuk memprediksikan

kegagalan bank di Indonesia. Simpulan ini diambil didasarkan atas tipe kesalahan yang

terjadi, khusus kasus di Indonesia ternyata rasio CAMEL serta variabel-variabel

independen lain yang digunakan dalam penelitian ini belum dapat memprediksikan

kegagalan bank. Dengan demikian perlu eksplorasi lebih lanjut terhadap variabel lain di

luar rasio keuangan agar diperoleh model yang lebih tepat untuk memprediksikan

kegagalan bank.

Sedangkan penelitian yang dilakukan Swandari (2002) berusaha untuk menganalisa

apakah tingginya perilaku risiko dari pemegang saham, kepemilikan institusi dan kinerja

mempengaruhi kebangkrutan bank. Sampel penelitian ini terdiri dari bank yang

dikategorikan fail dan bank yang sehat yang terdiri atas 25 bank yang dikategorikan fail

dan 35 bank yang sehat atau survive. Dalam penelitian ini variabel kinerja diproksikan

dengan NITA (laba bersih / total aktiva) dan FUTL (laba operasi / total kewajiban), selain

itu dalam penelitian ini juga memasukkan variabel kontrol yaitu size perusahaan dan

jumlah modal. Diprediksikan bahwa perilaku risiko berpengaruh positif terhadap kebangkrutan bank, sedangkan porsi kepemilikan institusi dan kinerja berpengaruh negatif

terhadap kebangkrutan bank. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa:

1. Variabel perilaku resiko memiliki tanda sesuai dengan prediksi namun secara statistik

tidak signifikan atau dapat dikatakan hipotesis yang dinyatakan dalam penelitian ini

ditolak. Hasil ini sejalan dengan teori agency cost of debt yang menyatakan bahwa

perusahaan dengan tingkat hutang yang tinggi akan menyebabkan manajer atau pemilik

bank berperilaku lebih beresiko atas beban debtholder atau para deposan. Dengan kata

lain, pemilik akan berupaya meningkatkan nilai opsi call dari saham yang mereka

miliki.

2. Variabel proksi kepemilikan institusi juga memiliki tanda sesuai prediksi namun secara

statistik tidak signifikan atau dapat dikatakan hipotesis yang dinyatakan dalam

penelitian ini ditolak..

3. Sedangkan dua variabel kinerja yang digunakan yaitu NITA dan FUTL, keduanya

memberikan dukungan terhadap hipotesis yang dinyatakan dalam penelitian ini.

Penelitian yang dilakukan oleh Haryati (2002) berusaha untuk menganalisa: (1) apakah

terdapat perbedaan bermakna kinerja keuangan yang diukur dari rasio cadangan

penghapusan kredit terhadap kredit, ROA, efisiensi dan LDR antar bank kelompok kategori

A, B dan C, dan (2) apakah rasio keuangan tersebut mempunyai pengaruh yang bermakna

terhadap kemungkinan kebangkrutan bank-bank kategori A, B dan C. Hasil dari penelitian

ini adalah empat rasio keuangan yang digunakan ternyata rasio ROA, Efisiensi dan LDR

mempunyai perbedaan yang signifikan di antara bank-bank dalam kategori A, B dan C.

Adapun rasio Cadangan Penghapusan Kredit terhadap Kredit tidak mempunyai perbedaan

bermakna mengingat pengukuran rasio ini untuk menilai kualitas asset dari bank kurang

tepat (tidak sesuai dengan pengukuran sebagaimana telah ditentukan oleh Bank Indonesia).

Penggunaan rasio keuangan yang mempunyai perbedaan signifikan dalam model logistic regression untuk menguji prediksi kebangkrutan bank-bank dalam kategori bangkrut

adalah akurat yang ditunjukkan dengan tingkat kemaknaan 0,00%. Dari ketiga rasio ROA,

Efisiensi dan LDR hanya rasio ROA yang mempunyai pengaruh bermakna terhadap

kemungkinan kebangkrutan bank.

Etty M. Nasser dan Titik Aryati (2000) menyimpulkan bahwa dengan uji univariate

ada dua jenis rasio yang signifikan yang membedakan bank sehat dan bank gagal yaitu

rasio EATAR dan OPM. Untuk rasio keuangan yang dominan mempengaruhi kegagalan

dan keberhasilan bank adalah EATAR dan PBTA melalui analisis Stepwise Statistic, dan

dengan analisis Casewise Statistic dapat diketahui tingkat keberhasilan keseluruhan dari

fungsi diskriminan dan untuk peramalan empat tahun sebelum bangkrut adalah 67,6 %.

Penelitian ini menggunakan bank go public sebagai sampel. Variabel bebas yang

digunakan adalah beberapa rasio-rasio keuangan model CAMEL yaitu CAR1, CAR2, ETA,

RORA, ALR, NPM, OPM, ROA, ROE, BOPO, PBTA, EATAR, dan LDR. Sedangkan

yang menjadi variabel terikat adalah Financial Distress dengan dua alternatif yaitu bank

sehat dan bank gagal.

Secara empiris tingkat kegagalan bisnis dan kebangkrutan bank dengan menggunakan

rasio-rasio keuangan model CAMEL dapat dibuktikan sebagaimana yang telah dilakukan

oleh beberapa peneliti yaitu : Thomson (1991) dalam Wilopo (2001) yang menguji manfaat

rasio keuangan CAMEL dalam memprediksi kegagalan bank di USA pada tahun 1980an

dengan menggunakan alat statistik regresi logit, Whalen dan Thomson (1988) dalam

Wilopo (2001) menemukan bahwa rasio keuangan CAMEL cukup akurat dalam menyusun

rating bank, dan di Indonesia Surifah (1999) menguji manfaat rasio keuangan dalam

memprediksi kebangkrutan bank dengan menggunakan model CAMEL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s